Minggu, 16 Juni 2019

Peraturan Bupati Bireuen Nomor 16 Tahun 2016 Tentang Hak Asal Usul Dan Kewenangan Lokal Berskala Gampong




PROVINSI ACEH

PERATURAN  BUPATI  BIREUEN NOMOR 16 TAHUN 2016

TENTANG

DAFTAR KEWENANGAN GAMPONG BERDASARKAN HAK ASAL USUL DAN KEWENANGAN LOKAL BERSKALA GAMPONG
DALAM KABUPATEN BIREUEN

DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA BUPATI  BIREUEN,

Menimbang





















Mengingat

: a.   bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 37 ayat (2)   Peraturan     Pemerintah  Nomor  43  Tahun  2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor
6  Tahun  2014  tentang  Desa  dan  Pasal  18  ayat  (1)
Peraturan Menteri Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pedoman Kewenangan Berdasarkan Hak Asal Usul dan Kewenangan  Lokal  Berskala  Desa,  maka  perlu mengatur   Kewenangan   Gampong   Berdasarkan  Hak Asal-Usul dan Kewenangan Lokal Berskala Gampong dalam Kabupaten Bireuen;

b.   bahwa     berdasarkan     pertimbangan     sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan dalam suatu Peraturan;

: 1.   Undang-Undang   Nomor   28   Tahun   1999   tentang Penyelenggaraan  Negara  yang  Bersih  dan Bebas  dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);

2.   Undang-Undang   Nomor   48   Tahun   1999   tentang Pembentukan    Kabupaten   Bireuen   dan   Kabupaten Simeulue (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1999   Nomor   176,   Tambahan   Lembaran   Negara Republik Indonesia Nomor 3897) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2000 tentang  Perubahan  Atas  Undang-Undang  Nomor  48
Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Bireuen
dan Kabupaten Simeulue (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3863);

3.    Undang-Undang   Nomor   11   Tahun   2006   tentang Pemerintahan                          Aceh    (Lembaran    Negara    Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633);

4.
Undang-Undang
Nomor   12
Tahun   2011   tentang

Pembentukan
Peraturan
Perundang-undangan
(Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2011
Nomor   82,   Tambahan   Lembaran   Negara   Republik
Indonesia Nomor 5234);

5.   Undang-Undang   Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
(Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2014
Nomor   7,   Tambahan   Lembaran   Negara   Republik
Indonesia Nomor 5495);

6.    Undang-Undang   Nomor   23   Tahun   2014   tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia  Tahun  2014  Nomor  244,  Tambahan Lembaran      Negara  Nomor  5587)  sebagaimana  telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor       9  Tahun  2015  (Lembaran  Negara  Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

7.   Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang
Pedoman Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun
2014   tentang   Desa   (Lembaran   Negara   Republik
Indonesia  Tahun  2014  Nomor  123,  Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5539) sebagaimana  telah  diubah  dengan  Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor
6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 88, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5717);

8.   Peraturan  Menteri  Dalam  Negeri  Nomor  111  Tahun
2014 tentang Pedoman Teknis Peraturan di Desa;

9.   Peraturan  Menteri  Dalam  Negeri  Nomor  114  Tahun
2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa;

10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah;

11. Peraturan   Menteri   Desa,   Daerah   Tertinggal   dan Transmigrasi Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pedoman Kewenangan         Berdasarkan    Hak    Asal    Usul    dan Kewenangan Lokal Berskala Desa;

12. Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan
Kehidupan Adat dan Adat Istiadat;

13.
Peraturan  Gubernur  Aceh  Nomor
25  Tahun  2011

tentang       Pedoman       Umum
Penyelenggaraan
Pemerintahan Gampong;

14.  Qanun  Kabupaten  Bireuen  Nomor  3  Tahun  2012 tentang Pemerintahan Gampong;



MEMUTUSKAN:

Menetapkan :   PERATURAN   BUPATI   TENTANG   DAFTAR   KEWENANGAN GAMPONG                      BERDASARKAN    HAK    ASAL    USUL    DAN KEWENANGAN    LOKAL    BERSKALA    GAMPONG    DALAM KABUPATEN BIREUEN.

BAB I KETENTUAN UMUM

Pasal 1


Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan :
1.  Daerah adalah Kabupaten Bireuen.

2. Pemerintahan Kabupaten adalah penyelenggara urusan Pemerintahan                           yang     dilaksanakan     oleh     Pemerintah Kabupaten dan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten sesuai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing.

3. Pemerintah Daerah Kabupaten yang selanjutnya disebut Pemerintah                       Kabupaten    adalah    unsur    Penyelenggara Pemerintahan   Kabupaten  yang  terdiri  atas  Bupati  dan Perangkat Kabupaten.

4.  Bupati adalah Bupati Bireuen.

5.   Gampong adalah Gampong dan Gampong adat selanjutnya disebut Gampong, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

6.   Pemerintahan  Gampong  adalah  penyelenggaraan  urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

7.   Pemerintah  Gampong  adalah  Keuchik  dibantu  perangkat Gampong                   sebagai    unsur    penyelenggara    Pemerintahan Gampong.

8.   Keuchik adalah Pimpinan Gampong sebagai kepala eksekutif Gampong yang memiliki kewenangan dalam penyelenggaraan Pemerintahan, Pelaksanaan Pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan di Gampong.

9.   Tuha   Peut   adalah   lembaga   yang   melaksanakan  fungsi pemerintahan                         yang   anggotanya   merupakan   wakil   dari penduduk Gampong berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis.

10. Kewenangan  Gampong  adalah  kewenangan  yang  dimiliki Gampong meliputi kewenangan di bidang penyelenggaraan Pemerintahan                           Gampong,     pelaksanaan     Pembangunan Gampong, Pembinaan Kemasyarakatan Gampong, dan Pemberdayaan Masyarakat Gampong berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul dan adat istiadat Gampong.

11. Kewenangan  berdasarkan  hak  asal  usul adalah hak yang merupakan                     warisan   yang   masih   hidup   dan   prakarsa Gampong atau prakarsa masyarakat Gampong sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat.

12. Kewenangan  lokal  berskala  Gampong  adalah  kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat Gampong yang telah dijalankan oleh Gampong atau mampu dan efektif dijalankan oleh Gampong atau yang muncul karena perkembangan Gampong dan prakasa masyarakat Gampong.

13. Musyawarah  Gampong  adalah  musyawarah  antara  Tuha Peut, Pemerintah Gampong, dan unsur masyarakat yang diselenggarakan oleh Tuha Peut untuk menyepakati hal yang bersifat strategis.

14. Qanun  Gampong  adalah  peraturan  perundang-undangan yang ditetapkan oleh Keuchik setelah dibahas dan disepakati bersama Tuha Peut.

15. Pembangunan Gampong adalah upaya peningkatan kualitas hidup dan kehidupan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Gampong.


Pasal 2

Ruang lingkup kewenangan berdasarkan hak asal usul gampong mencakup:
a. sistem organisasi perangkat gampong;
b. sistem organisasi masyarakat adat;
c.  pembinaan kelembagaan masyarakat;
d. pembinaan lembaga dan hukum adat;
e.  pengelolaan tanah gampong atau tanah hak milik gampong; dan f.  pengembangan peran masyarakat gampong.



BAB II
KEWENANGAN GAMPONG BERDASARKAN HAK ASAL USUL



Pasal 3

Kewenangan Gampong berdasarkan hak asal usul terdiri dari:
a. pembinaan kelembagaan masyarakat;
b. pengelolaan aset gampong;
c.  pengembangan peran masyarakat gampong;

d. pengelolaan Meunasah gampong; dan e.  pembinaan lembaga dan hukum adat.



Pasal 4

Uraian lebih lanjut mengenai Kewenangan Gampong berdasarkan hak asal usul sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 tercantum dalam Lampiran I Peraturan ini.



BAB III
KEWENANGAN LOKAL BERSKALA GAMPONG

Pasal 5

Kriteria kewenangan lokal berskala Gampong  meliputi:
a. kewenangan yang mengutamakan kegiatan pelayanan dan pemberdayaan masyarakat;
b.  kewenangan yang mempunyai lingkup pengaturan dan kegiatan hanya di dalam wilayah dan masyarakat Gampong   yang mempunyai dampak internal Gampong;
c. kewenangan   yang   berkaitan   dengan   kebutuhan   dan kepentingan sehari-hari masyarakat Gampong;
d.  kegiatan  yang  telah  dijalankan  oleh  Gampong  atas  dasar prakarsa Gampong;
e.  program    kegiatan    Pemerintah,    Pemerintah    Aceh,    dan
Pemerintah  kabupaten  Bireuen  dan  pihak  ketiga  yang  telah diserahkan dan dikelola oleh Gampong; dan
f.   kewenangan lokal berskala Gampong yang telah diatur dalam peraturan                       perundang-undangan       tentang       pembagian kewenangan Pemerintah, Pemerintah Aceh, dan Pemerintah Kabupaten Bireuen.



Pasal 6

Kewenangan lokal berskala Gampong terdiri dari;
a. penyelenggaraan pemerintahan Gampong;
b. pembangunan Gampong;
c.  pembinaan kemasyarakatan Gampong; dan d. pemberdayaan masyarakat Gampong.



Pasal 7

Uraian   lebih   lanjut   mengenai   Kewenangan   Lokal   Berskala Gampong  sebagaimana  dimaksud    dalam  Pasal  6,  tercantum dalam Lampiran II Peraturan ini.

BAB IV KETENTUAN PENUTUP

Pasal 8
Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah
Kabupaten Bireuen



Ditetapkan di Bireuen
pada tanggal 12 April 2016

BUPATI BIREUEN, ttd
RUSLAN M. DAUD



Diundangkan di Bireuen pada tanggal 13 April 2016
SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BIREUEN,

ttd

ZULKIFLI

BERITA DAERAH KABUPATEN BIREUEN TAHUN 2016 NOMOR 275


Tidak ada komentar:

Posting Komentar